Kamis, 09 April 2015
Bima Junita SariBRANDING PRODUK DAN PENGALAMAN JASA
BRANDING PRODUK DAN
PENGALAMAN JASA
Ditulis Oleh : Bima
Junita Sari
Berdasarkan resume buku
lopelock
Beberapa tahun terakhir
ini, semakin banyak bisnis jasa yang berbicara tentang produknya hingga muncul sebuah istilah yang diasosiasikan dengan
barang manufaktur yaitu “produk dan layanan”. Sebuah istilah juga yang digunakan
oleh perusahaan manufaktur yang menekankan layanan. Apa perbedaan antara kedua
istilah tersebut dalam lingkungan bisnis saat ini?
Istilah produk
mengimplikasikan suatu “kumpulan output” yang terdefinisi dan konsisten serta
kemampuan untuk mendeferensiasi suatu kumpulan outpun satu dengan yang lainnya.
Dalam perusahaan manufaktur hal ini sangat mudah dipahami dan dibayangkan namun
dalam pemasaran jasa untuk membedakan output dapat dilakukan dengan cara
melihat berbagai “model” yang ditawarkan oleh perusahaan manufaktur. Contohnya,
restoran akan menawarkan menu yang ditawarkan oleh perusahaannya melalui gambar
yang disajikan.
Istilah layanan lebih
kepada suatu yang bersifat nirwujud dalam menawarkan produk dan mewakili
sekumpulan layanan tambahan penambah nilai yang sudah ditetapkan disekitar
produk inti. Contohnya, sebuah universitas yang menawarkan berbagai program
sarjana yang berbeda dan setiap program sarjana memiliki penawaran mata kuliah
wajib dan mata kuliah pilihan.
Strategi
Branding untuk Jasa
Sebagian besar
organisasi jasa menawarkan suatu lini produk dan bukan hanya suatu produk.
Hasilnya, mereka harus memilih diantara empat alternative baranding yang luas,
yaitu:
1.
Branded
house
yaitu keadaan
dimana perusahaan menggunakan satu merek untuk mencakup seluruh produk dan
jasa. Keunggulan dari strategi ini
adalah dimana pemasar menjadi lebih focus kepada pengelolaan merek. Kelemahannya
adalah merek terentang terlalu jauh dan melemah, selain itu pemasar cenderung
kehilangan kemempuan diferensiasi. Contonya, perusahaan Samsung yang
menggunakan merek Samsung untuk setiap produknya mulai dari HP,TV, laptop dan
lemari es.
2.
House
of brand
yaitu keadaan
dimana perusahaan menggunakan merek terpisah untuk setiap penawarannya.
Keunggulannya adalah dimana setiap merek memiliki target market dan positioning
sendiri-sendiri. Contohnya perusahaan Professional Wedding yang memberikan jasa
wedding yang memiliki “Ultimate wedding” untuk segmen menengah keatas dan “Happy
Wedding” untuk segmen menengah kebawah.
3.
Subbrands
yaitu keadaan
dimana merek korporat atau merek master adalah sudut pandangutama tetapi
produknya sendiri memiliki sebuah nama yang berbeda. Contohnya, perusahaan
Google yang membedakan merek untuk kategori produknya. Untuk e-mail diberi nama
“Gmail”, untuk aplikasa handphone diberi nama “GooglePlay”, dan untuk aplikasi
maps diberi nama “Google maps”. Merek utama masih melekat pada produk yaitu
Google.
4.
Endorsed
brands :
yaitu keadaan
dimana merek produklah yang mendominasi tetapi merek korporat masih ditampilakan.
Contohnya, Hilton hotels corporations.
Menyusun
Tingkatan Produk Jasa dengan Branding
Tingkatan jasa (service tiering) adalah penggunaan
branding untuk mendiferensiasikan tingkat layanan, kelas harga, dan tingkat
kinerja layanan. Hal ini dapat dilihat dalam bisnis perhotelan, maskapai
penerbangan, layanan penyewaan mobil, dan layan dukungan peranti lunak dank
eras untuk computer.
Dalam industry
perhotelan masing-masing paket memiliki tingkatan harga dan kualitas layanan
yang berbeda contohnya untuk layanan wedding paket dan family paket pasti
berbeda dan harga yang ditawarkan pun berbeda. Dalam industry penyewaan mobil,
ukuran dan jenis mobil membentuk dasar dari tingkatan. Dalam industry
penerbangan masing-masing seat penumpang embentuk tingkatan produk jasa yang
ditawarkan.
Menawarkan
Pengalaman Bermerek
Merek dapat diterapkan ditingkat
korporat dan produk pada hamper seluruh bisnis jasa. Menerapkan merek yang
berbeda pada produk individual memungkinkan perusahaan untuk mengkomunikasikan kepada
target pasar pengalaman dan manfaat yang berbeda yang dapat diasosiasikan
dengan konsep lyanan yang spesifik. Singkatnya, hal ini membantu pemasar untuk
menetapkan gambaran mental dari sebuah layanan didalam benak pelanggan dan
untuk menjelaskan sifat proposisis nilai.
Rabu, 18 Maret 2015
PERBEDAAN PEMBANGUNAN PADA NEGARA INDONESIA DENGAN NEGARA FILIPINA
PERBEDAAN
PEMBANGUNAN PADA NEGARA INDONESIA DENGAN NEGARA FILIPINA
BY : BIMA JUNITA
SARI
Pembangunan Ekonomi merupakan serangkaian usaha dalam suatu perekonomian
untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak
tersedia, perusahaan semakin banyak dan semakin berkembang, taraf pendidikan
semakin tinggi dan teknologi semakin meningkat. Dewasa ini kita dapat melihat
setiap Negara gencar melakukan pembangunan ekonomi untuk mensejahterakan
rakyatnya dan menstabilkan pertumbuhan ekonomi negaranya.
Namun pembangunan ekonomi disetiap Negara tidaklah sama karena adanya
perbedaan antara Negara maju dan Negara berkembang. Indonesia dan Filipina
merupakan Negara berkembang yang sedang gencar melakukan pembangunan diberbagai
sektor ekonomi. Dalam proses pembangunannya Indonesia dan Filipina memiliki
beberapa hambatan. Maka dalam artikel ini saya akan menjelaskan perbedaan
pembangunan Ekonomi di Indonesia dengan yang ada di Filipina.
Pada artikel ini saya akan menjelaskan perbedaan pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi antara Negara Indonesia dengan Negara Filipina. Filipina
dan Indonesia merupakan Negara berkembang yang masih berada di kawasan ASEAN.
Hal ini saya pilih untuk memudahkan saya dalam melakukan perbandingan yang
signifikan antara kedua Negara tersebut.
Filipina pekan lalu mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2013 yang
mencapai 7,8 persen. Realisasi pertumbuhan ekonomi anggota ASEAN ini jauh di
atas Indonesia dan China. Kinerja ini sontak mengejutkan banyak pihak, tak
terkecuali pemerintah Indonesia. Pasalnya, capaian ekonomi Tanah Air yang cukup
positif, mendadak tersalip oleh Filipina. Posisi Indonesia kini di urutan
ketiga se-Asia dalam hal pertumbuhan ekonomi.
Padahal, perekonomian Filipina selama beberapa dekade stagnan dibandingkan
negara lain di kawasan Asia. Sekitar seperempat dari total populasi 60 juta
orang, hidup di bawah garis kemiskinan, alias hanya berpendapatan USD 60 sen
dollar atau Rp 6.000 per hari.Setelah Presiden Benigno Aquino terpilih pada
2010, ekonomi membaik dan selalu positif setiap tahun. Sebelumnya, pertumbuhan
ekonomi negara mayoritas Katolik ini rata-rata hanya 4,6 persen.
Fakta mengkilapnya kinerja Filipina semakin membuat pemerintah
ketar-ketir, pasalnya kinerja Indonesia tahun ini terancam melambat dibanding
2012.Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen saja, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono bergantung pada
kecepatan DPR membahas Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara-Perubahan
(RAPBN-P) yang berisi rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
bersubsidi.
Di saat pemerintah masih sibuk dengan tarik ulur kebijakan BBM subsidi,
para pengamat khawatir investor bakal mengalihkan modal ke Filipina yang lebih
"cerah".Alhasill, kini pelbagai pihak berusaha menganalisa apa saja
penyebab ngebutnya ekonomi Filipina. Mulai dari pejabat pemerintah hingga
mantan pejabat urun suara.
Selisih pertumbuhan antara Filipina dan Indonesia selaku raksasa ekonomi
Asia Tenggara kian melebar, terutama sejak Indonesia menghadapi tekanan untuk
menerapkan siklus pengetatan moneter paling agresif sejak 2008.
Menurut tujuh dari 14 ekonom yang disurvei Bloomberg,
Bank Indonesia kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga Fasilitas Simpanan
Bank Indonesia (Fasbi) untuk kali keempat tahun ini. Sebanyak
tujuh analis lainnya memperkirakan tidak akan ada perubahan.
Para analis berpendapat suku bunga acuan dapat menembus 7,5% pada
kuartal I/2014, setelah bertahan pada level 7% pekan ini. Padahal, Filipina
justru akan menahan bunga acuan pada level 3,5% sepanjang sisa tahun ini.
Perbedaan manuver kebijakan moneter kedua negara menunjukkan Filipina
memiliki daya tahan terhadap krisis yang lebih kuat ketimbang Indonesia. Negara
pimpinan Presiden Benigno Aquino III itu juga mengantongi peringkat investasi
dari berbagai lembaga.
Tidak hanya itu, Filipina berhasil mempertahankan laju pertumbuhan di
atas 7% tahun ini, sedangkan Indonesia harus berperang melawan perlambatan
ekspansi yang dibarengi dengan rekor pelebaran defisit transaksi berjalan dan
percepatan laju inflasi sejak 2009.
Nilai tukar rupiah juga anjlok 11% kuartal III/2013, menjadikannya mata
uang dengan performa terburuk di antara 24 nilai tukar utama pasar berkembang.
Kemerosotan itu tujuh kali lipat lebih besar dari depresiasi nilai tukar peso
Filipina.
“Ada risiko pasar akan menghukum Bank Indonesia lagi sehingga menciderai
rupiah jika bank sentral tidak menaikkan lebih jauh,” ujar Robert
Prior-Wandesforde, ekonom Credit Suisse Group AG yang berbasis di Singapura,
Rabu (11/9/2013).
Menurutnya, badai ekonomi Indonesia dewasa ini semakin memburuk. Di sisi
lain, Filipina justru kian membaik dan mencapai titik manis dari siklus
pertumbuhan ekonomi saat ini. Indeks saham acuan Filipina menguat hampir 7%
tahun ini, mengalahkan indeks Jakarta Composite yang hanya naik 1%.
PROBLEMA INDONESIA
Pada 2008, Indonesia
menaikkan Fasbi rate hingga delapan kali dan suku bunga acuan hingga enam kali
untuk membendung inflasi. Bank sentral secara tak terduga kembali menaikkan
bunga acuan pada rapat kebijakan tidak terjadwal 29 Agustus lalu. Padahal, pada
pertemuan 15 Agustus, BI memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan. Bank
sentral Indonesia itu juga menaikkan Fasbi rate sebesar 0,5 poin menjadi 5,25%.
Indonesia juga telah menjual
saham syariah berdenominasi dolar senilai US$1,5 miliar awal pekan ini, dengan
imbal yang mencapai rekor tertinggi sejak 2009. Tujuannya adalah untuk menambah
cadangan mata uang asing guna menopang rupiah.
Jumlah cadangan mata uang
asing di Indonesia mencapai rekor terendah hampir selama 3 bulan terakhir.
Akibatnya, para pembuat kebijakan terpaksa memperpanjang perjanjian swap
bilateral dengan Bank of Japan (BoJ) yang bernilai US$12 miliar.
Laju pertumbuhan Indonesia
hanya mencapai 5,8% kuartal lalu dari tahun sebelumnya, dan merupakan fase
paling lambat dalam 2 tahun terakhir. Secara kontras, pertumbuhan produk
domestik bruto (PDB) Filipina naik 7,5%, setara dengan PDB China kuartal lalu,
setelah Aquino menggenjot belanja dan investasi.
Negara beribu kota Manila
itu juga digadang-gadang menjadi salah satu dari 5 kekuatan ekonomi dengan
pertumbuhan tercepat tahun ini dan tahun depan. Padahal, fase pertumbuhan
rata-rata tahunan Filipina dari 2001—2010 adalah 4,8%, dibandingkan dengan
Indonesia yang mencapai 5,3%.
“Bintang Indonesia telah
meredup. Sebaliknya, kebangkitan ekonomi Filipina cukup mengesankan. Bersama
dengan China, negara itu akan menjadi kekuatan ekonomi Asia dengan pertumbuhan
tercepat beberapa tahun mendatang,” imbuh Gareth Leather, ekonom Capital
Economics Ltd. yang berbasis di London, sebagaimana dikutip Bloomberg,
Rabu (11/9).
Perbandingan Indonesia—Filipina:
Indikator
Indonesia
Filipina
PDB
QII/2013
5,8%
7,5%
Laju pertumbuhan rata-rata
(2001—2010)
5,3%
4,8%
Suku bunga acuan
7%
3,5%
Indeks saham
acuan
Menguat
1%
Menguat 7%
Depresiasi nilai tukar
QIII/2013
11%
1,5%
Berikut lima alasan negara tetangga itu kinerja
ekonominya kini mampu melampaui Indonesia, seperti disarikan Merdeka:
1. Penduduk Filipina cuma 60 juta jiwa
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala
Bappenas Armida Alisjahbana termasuk yang mengapresiasi kinerja ekonomi
Filipina. Dia tidak kaget dengan pertumbuhan yang cepat negara itu di bawah
kepemimpinan Presiden Benigno Aquino. Alasannya, penduduk Filipina lebih
sedikit dari Indonesia. Ketika perekonomian sedang bagus, maka pertumbuhan pun
lebih cepat terakselerasi.
"Kita itu punya potensi sendiri, masing-masing
negara kan beda-beda. Kalau Filipina (jumlah penduduk sekitar) 60 juta jiwa,
kita berapa? 240 juta, demokratis dengan berbagai potensi," ujarnya di
DPR, Kamis (30/5).Karena itu, Armida tetap optimis aliran dana investasi akan
terus masuk ke Indonesia, walaupun Filipina kini sudah masuk pertimbangan
investor asing.
2. Filipina serius mereformasi ekonomi
Rezim Presiden Benigno Aquino dinilai serius
menjalankan agenda reformasi keuangan. Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas
(Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro.
"Filipina itu sekarang sedang dalam momentum
bagus, pertumbuhan ekonomi 6,6 persen, dapat investment grade, Current
Accountnya surplus. Berarti dia punya momentum. Dan dia lagi reform," ujar
Bambang usai Rapat Kerja bersama Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis
(30/5).
Hanya saja, Bambang enggan menyebut Indonesia kalah
bersaing dengan Filipina. Alasannya, tidak jauh beda dari Armida, yaitu
permasalahan Indonesia yang berpenduduk 240 juta orang lebih rumit dari negara
tetangga di ASEAN itu. Selain itu, dia membandingkan kinerja Indonesia
memulihkan ekonomi lebih cepat dari Filipina yang bertahun-tahun tak pernah
merasakan pertumbuhan di atas 5 persen.
"Kita tidak ada kalah atau menang. Filipina itu
sudah lama sekali enggak ngerasain pertumbuhan ekonomi 6 persen. Dia itu pernah
dianggap orang sakitnya Asia, karena lama sekali pertumbuhannya jelek. Kita kan
setelah krisis 1998 recover-nya cepat," cetusnya.
3. Faktor Presiden Benigno Aquino
Presiden Benigno Aquino menjadi alasan utama capaian
ekonomi Filipina yang dahsyat tiga tahun terakhir. Dia memiliki visi kuat dalam
bidang ekonomi dan pandai menggenjot momentum positif pasar lewat
kebijakan-kebijakannya.
Hal ini diakui oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dia pun
menegaskan, pertumbuhan di atas 5 persen tercipta sejak presiden yang akrab
dipanggil Ninoy itu. Meski demikian, Mantan Dirut PLN ini tetap saja terkejut
melihat betapa hebatnya Filipina sekarang.
"Pertumbuhan ekonomi Filipina memang termasuk
kencang sejak 2010 lalu.Setelah kemarin ketemu Presiden Benigno Aquino, saya
terkejut saat mendarat di Filipina. Waktu itu Biro Pusat Stasistik sana
mengumumkan petumbuhan ekonomi Filipina kuartaI 1 mencapai 7,8 persen,"
ujarnya di Kementerian BUMN, Jumat (31/5).
Tak khawatir capaian Indonesia kini disaingi Filipina,
Dahlan malah melihat peluang bisnis dari pertumbuhan ekonomi yang kencang dari
negara tetangga itu. Dia percaya warga Filipina yang semakin kaya akan
membutuhkan produk barang dan jasa dari negara lain, termasuk Indonesia.
"Nah tentu waktu ketemu Presiden Aquino, saya
ucapkan selamat pertumbuhan ekonomi yang besar. Di sana lagi memerlukan atau
akan membeli produk Indonesia atau negara lain," kata Dahlan.
4. Filipina tak pusing soal subsidi BBM
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla punya pendapat lain
soal kecepatan pertumbuhan ekonomi Filipina yang luar biasa. Menurut Ketua
Palang Merah Indonesia ini, negara itu tidak disibukkan dengan isu energi, khususnya
subsidi bahan bakar.
Dia pun menilai, Indonesia kalah telah karena terlalu
boros mengeluarkan duit negara untuk sektor yang tidak produktif. Seandainya
subsidi BBM dialihkan untuk infrastruktur, Kalla percaya pertumbuhan negara ini
bisa lebih tinggi dari Filipina.
"Satu-satunya masalah kan karena subsidi kan, kan
kemampuan berkurang karena subsidi kan, sekiranya subsidi sudah sejak awal
tahun lalu, jauh lebih mampu kita dibanding Filipina. Itu kan masalah kebijakan
saja," ungka Kalla di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Sabtu (1/6).
5. Filipina maksimalkan tenaga kerja asing
Di Indonesia, berita-berita soal nasib buruk Tenaga
Kerja Indonesia (TKI) lebih sering mengemuka. Cerita sebaliknya muncul dari
Filipina. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, negara itu efektif
mendorong transfer devisa dari tenaga kerjanya di luar negeri. Sikap pemerintah
Filipina mendukung tenaga kerjanya di luar negeri terlihat dari padunya
politikus dan birokrasi.
"Kebijakan ekonomi ke dalam birokrasinya dia betul-betul ter-reform dengan baik," papar Kalla.
"Kebijakan ekonomi ke dalam birokrasinya dia betul-betul ter-reform dengan baik," papar Kalla.
Tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri, kebanyakan
perempuan memang sejak lama menopang pendapatan devisa Filipina. Tenaga kerja
negara itu terdidik, dan di luar negeri menjadi perawat atau pengasuh anak dan
lansia.
KESIMPULAN :
Filipina
awalnya merupakan negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya lebih lemah
dari Indonesia. Namun pada 5 tahun belakangan ini Filipina telah membuktikan
bahwa mereka mampu melakukan perubahan besar-beasaran dalam rangka meningkatkan
pertumbuhan ekonomi negaranya. Menurut saya Indonesia bahkan mampu melakukan
yang lebih baik dari apa yang dilakukan negara Filipina tersebut mengingat
negara Indonesia memliki kekayaan alam yang melimpah hanya saja mental orang
Indonesia yang kurang bagus untuk mengelola Sumber Daya Alam yang tersedia.
Minggu, 15 Maret 2015
Bima Junita Saridan, Pengendalian Starategi, PENGEVALUASIAN, PENGKAJIAN ULANG
Pengkajian Ulang, Pengevaluasian, dan, Pengendalian Starategi
TUGAS MANAJEMEN
STRATEGI
DISUSUN
OLEH :
v BIMO PRASETYO (120502054)
v BIMA JUNITA SARI (120502167)
v MUHAMMAD IRFAN (120502249)
v ACHMED RIZQY (120502354)
v FIQIH FACHRUL ROZI (120502355)
FAKULTAS EKONOMI dan BISNIS
PROGRAM STUDI S-1 MANAJEMEN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan berkat dan karunia-Nya kepada kami semua, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah resume bab 9 yang berjudul PENGKAJIAN
ULANG, PENGEVALUASIAN, Dan PENGENDALIAN STRATEGI.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing mata kuliah
manajemen strategi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara,
selaku dosen kami yang telah banyak membantu kami dalam penyelesaian
tugas ini. Dan tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman kami
yang telah membantu.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini banyak
kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun,
sehingga dapat kami jadikan sebagai refensi dalam penyelesaian tugas
berikutnya.
Dan semoga dengan
terselesaikannya tugas pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi kami semua.
Amin.....
Penulis,
( Kelompok 9 )
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................... ii
HAKIKAT EVALUASI
STRATEGI .......................................................................... 1
Kriteria
Rumelt Untuk
Mengevaluasi
Strategi ........................................................................... 2
PROSES
EVALUASI STRATEGI ........................................................................... 4
KERANGKA
KERJA EVALUASI ........................................................................... 4
Mangkaji
ulang landasan strategi ........................................................................... 5
Mengukur
kinerja organisasi ........................................................................... 6
Mengambil
Tindakan Korektif ........................................................................... 7
BALANCED
SCORECARD ........................................................................... 7
SUMBER-SUMBER
INFORMASI
EVALUASI
STRATEGI ........................................................................... 8
KARAKTERISTIK
SISTEM
EVALUASI
yang EFEKTIF ........................................................................... 8
Perencanaan
Kontinjensi ........................................................................... 8
Audit ........................................................................... 9
Tantangan
dalam manajemen
strategis
pada abad ke-21 ........................................................................... 10
Isu
Seni atau Ilmu Pengetahuan ........................................................................... 10
Isu
yang Tampak atau Tersembunyi ........................................................................... 10
Pendekatan
atas-ke-bawah atau
bawah-ke-atas ........................................................................... 11
KESIMPULAN ........................................................................... 12
BAB
9
PENGKAJIAN ULANG, PENGEVALUASIAN, dan PENGENDALIAN STRATEGI
PENGKAJIAN ULANG, PENGEVALUASIAN, dan PENGENDALIAN STRATEGI
HAKIKAT EVALUASI
STRATEGI
Penyusun
strategi sepakat bahwa evaluasi stratgi vital bagi kebaikan suatu organisasi;
evaluasi yan sesuai bisa menyadarkn manajemen akan masaah atau potensi masalah
sebelum situasi semakin kritis.
Evaluasi
strategi meliputi tiga aktivitas pokok :
1.
penyelidikan atas landasan yang mendasari strategi perusahaan
2.pembandingan
hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya
3.
pengambilan tindakan korektif untuk memastikan bahwa kinerja sesuai dengan
rencana.
Evaluasi
strategi bias menjadi tindakan yang rumit dan sensitif. Penekanan yang terlalu
besar pada evaluasi strategi bisa jadi mahal dan kontraproduktif. Semakin besar
usaha manejer untuk mengevaluasi prilaku dari yang lain, semakin kecil kendali
yang mereka miliki. Namun demikian, terlalu sedikit evaluasi atau tidak ada
evaluasi sama sekali dapat menciptakan persoalan yang lebih buruk. Evaluasi
strategi penting untuk memastikan bahwa tujuan yang tersurat dapat tercapai.
Richard
Rumelt memberikan empat kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu
strategi konsistensi, kesesuaian, kelayakan, dan keunggulan. Seperti tampilan
tabel dibawah ini:
Sebagaimana
dideskripsikan kesesuaian dan keunggulan terutama didasarkan pada
penilaian eksternal perusahaan, sedangkan konsistensi
dan kelayakan terutama didasarkan
pada penilaian internal perusahaan.
Kriteria Rumelt Untuk
Mengevaluasi Strategi
·
Konsistensi
Sebuah strategi tidak boleh menunjukkan tujuan dan
kebijakan yang tidak konsisten.
Tiga pedoman yang menentukan apakah persoalan
organisasi disebabkan oleh ketidak konsistenan dalam strategi :
1.
Jika persoalan manajerial terus berlangsung meskipun ada perubahan personil dan
jika persoalan tersebut lebih cenderung berbasis isi alih-alih berbasis orang,
bisa disimpulkan bahwa telah terjadi ketidak konsistenan strategi.
2.
Jika keberhasilan suatu departemen organisasi berarti, atau bisa
diinterpretasikan, kegagalan departemen lain, strategi itu mungkin tidak
konsisten.
3.
Jika persoalan dan isu kebijakan terus didorong keatas untuk mendapatkan
resolusi, stateginya bisa jadi tidak konsisten.
·
Kesesuaian
Kesesuaian mengacu pada pelunya penyususnan strategi
untuk mencermati serangkaian tren (sets of trends), termasuk tren
individual, dalam mengevaluasi strategi.
·
Kelayakan
Strategi tidak boleh menguras seluruh sumber daya
yang tersedia atau menciptakan anak-anak persoalan yang tidak terpecahkan. Uji
terakhir dari strategi adalah kelayakannya; itu berarti, bisakah strategi
diusahakan dalam sumber daya fisik, sumber daya manusia, dan sumber daya
keuangan yang dimiliki suatu bisnis? Sumber day keuanagan suatu bisnis adalah
yang termudah untuk mengantifikasi dan umumnya merupakan batasan pertama
terhadap strategi yang dievaluasi.
Dalam mengevaluasi strategi, penting untuk mengamati
apakah sebuah organisasi dimasa lalu telah menunjukkan bahwa ia mempunyai
kemamapuan, kompetensi, ketrampilan, dan talenta yang dibutuhkan untuk
menjalankan suatu strategi tertentu.
·
Keunggulan
Sebuah strategi harus memfasilitasi upaya
menciptakan dan/atau mempertahankan keunggulan kompetitif di bidang aktivitas
tertentu. Keunggulan kompetitif biasanya merupakan hasil keunggulan dari salah
satu bidang: (1) sumber daya, (2) ketrampilan, dan (3) posisi.
Karakteristik utama dari posisi yang baik adalah
yang memungkinkan perusahaan mencapai keunggulan berbagai kebijakan yang tidak
akan sama menguntungkannya bagi pesaing yang tidak memiliki posisi yang sama.
Alasan-alasan
lain mengapa evaluasi strategi lebih sulit saat ini meliputi tren-tren berikut
:
1.
meningkatkan kompleksitas lingkungan yang dramatis
2.
semakin sulitnya untuk memprediksikan masa sepan secara akurat
3.
bertambahnya jumlah variabel
4.
cepatnya laju pengusangan bahan untuk rancangan yang paling bagus sekalipun
5.
semakin banyaknya kejadiandi dalam negeri dan dunia yang mempengaruhi
organisasi
6.
berkurangnya rentang waktu untuk menjalankan perencanaan dengan derajat
kepastian tertentu
Sebuah persoalan mendasar yang di hadapi para
manajer dewasa ini adalah bagaimana secara efektif mengawasi karyawan dalan
tuntutan organisasi modern akan fleksibel, inovasi, kreativitas, dan inisiatif
dari karyawan yan lebih besar.
PROSES
EVALUASI STRATEGI
Evaluasi strategi seharusnya merangasang sikap
kritis terhadap ekspektasi dan asumsi yang ada, memicu pengkajian ulang atas
tujuan dan nilai-nilai, serta merangsang kreativitas untuk menghasilkan
alternatif dan merumuskan kriteria evaluasi.
Aktivitas evaluasi srategi harus dijalankan secara
kontinu, alih-alih pada akhir suatu periode waktu atau hanya setelah persoalan
muncul.Beberapa strategi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat
diterapkan; akibatnya, hasil yang diharapkan mungkin tidak tampak cepat.
Strategi yang berhasil memadukan kesabaran dengan
kesediaan untuk dengan cepat mengambil tindakan korektif bilamana dirasa perlu.
Selalu ada waktu ketika tindakan korektif dibutuhkan dalam suatu
organisasi.Ketika faktor-faktor keberhasilan utama berubah, para anggota
organisasi perlu dilibatkan dalam menentukan tidakan korektif yang tepat.
KERANGKA
KERJA EVALUASI STRATEGI
Perhatikan
bahwa tindakan korektif hampir selalu diperlukan kecuali ketika :
1.
faktor-faktor eksternal dan internalbtidak berubah secara signifikan dan
2.
perusahaan berkembang secara memuaskan kearah pencapaian tujuan yang tersurat.
Seperti
pada gambar :
Mangkaji ulang landasan
strategi
Mangkaji ulang landasan yang mendasari strategi
sebuah organisasi (reviewing the underlying bases of an organisation’s
strategyI) dapat dilakukan dengan mengembangkan revisi matrix EFE dan IFE.
Revisi matrix IFE (revised IFE matrix) berfokus pada perubahan-perubahan
dalam kekuatan atau kelemahan manajeman, pemasaran, keuangan/akuntansi,
produksi/operasi, litbang, dan sistem informasi manajemen organisasi. Revisi
Matrix EFE (revised EFE matrix) mengindikasi seberapa efektif strategi
suatu perusahaan merespon barbagai peluang dan ancaman utama.
Sacara eksternal, langkah pesaing, perubahan
permintaan, perubahan teknologi, perubahan ekonomi, pergeseran demografis, dan
tindakan pemerintah bisa menghambat pencapain objektif. Secara internal,
strategi yang tidak efektif mungkin telah dipilih atau aktivitas penerapannya
buruk.
Mengukur kinerja
organisasi
Aktivitas
ini mancakup pembandingan hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya
(aktual), penyelidikan terhadap penyimpangan terhadap rencana, evaluasi kinerja
individual, dan pengamatan kemajuan yang telah dibuat kearah pencapaian tujuan
yang tersurat. Kreteria untuk mengevaluasi strategi harus terukur dan mudah
diverifikasi. Kriteria yang memprediksi hasil kiranya lebih penting dari pada
yang menunjukkan apa yang telah terjadi. Kreteria kuantitatif yang lazim
digunakan untuk mengevaluasi strategi adalah rasio keungan, yang digunakan para
penyusun strategi untuk membuat tiga pembanding penting: (1) pembanding kinerja
perusahaan dari waktu ke waktu, (2) pembanding kinerja perusahaan dengan
kinerja pesaing, dan (3) pembanding kinerja perusahaan dengan rata-rata
industri.
Beberapa
rasio keuangan penting yang sangat berguna sebgai kriteria evaluasi strategi
adalah:
- Pengembalian
atas investasi (return on investment- ROI)
- Pengmebalian
atas ekuitas ( return on equity- ROE)
- Margin
laba
- Pangsa
pasar
- Utang
terhadap ekuitas
- Laba
per saham
- Pertumbuhan
penjualan
- Pertumbuhan
asset
Muncul beberapa persoalan potensial terkait dengan
peggunaan kriteria kuantitatif dalam mengevaluasi strategi. Pertama, sebagian
besar kriteria kuantitatif didayai oleh tujuan tahunan alih-alih tujuan jangka
panjang. Kedua, metode akuntansi yang berbeda bisa memberikan hasil yang
berbeda di banyak kriteria kuantitatif. Ketiga, penilaian intuitif hampir
selalu ada di dalam penentuan kriteria kuantitatif.
Mengambil Tindakan Korektif
Aktivitas evaluasi strategi yang
terakhir, mengambil tindakan korektif (taking
corrective actions), membutuhkan perubahan untuk secara menyeluruh
memosisikan ulang perusahaan demi masa depan. Mengambil tindakan korektif bisa
menimbulkan kekhawatiran karyawan dan manajer. Riset menunjukkan bahwa
partisipasi dalam aktivitas evaluasi strategi adalah salah satu cara terbaik
untuk mengatasi resistensi individualterhadap perubahan.
Evaluasi strategi bisa mengarah pada
perubahan perumusan strategi, perubahan penerapan strategi, perubahan baik
dalam perumusan maupun penerapan strategi, atau tidak ada perubahan apapun.
Tindakan korektif harus membawa organisasi ke posisi yang lebih baik untuk
memanfaatkan kekuatan internal; mengambil keuntungan dari peluang eksternal
utama; menghindar, mengurangi, atau menangkal ancaman eksternal; dan
memperbaiki kelemahan internal. Tindakan korektif perlu memiliki horizon waktu
yang sesuai dan jumlah resiko yang memadai.
BALANCED
SCORECARD
Balanced
Scorecard adalah alat evaluasi strategi yang penting. Balanced Scorecard merupakan sebuah proses yang memungkinkan
perusahaan mengevaluasi strategi dari empat perspektif: kinerja keuangan, pengetahuan
konsumen, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.
Perusahaan mencermati enam isu utama
dalam mengevaluasi strateginya: (1) Konsumen, (2) Manajer/Karyawan, (3)
Operasi/Proses, (4) Komunitas/ Tanggung Jawab Sosial, (5) Etika Bisnis/
Lingkungan Hidup, dan (6) Keuangan.
SUMBER-SUMBER INFORMASI
EVALUASI STRATEGI yang DIPUBLIKASIKAN
Delapan atribut penting
berfungsi sebagai kriteria evaluatifnya: manajemen manusia; keinovatifan;
kualitas produk atau jasa; kesehatan keuangan; tanggung jawab social;
penggunaan aset perusahaan; investasi jangka panjang; dan kualitas manajemen.
KARAKTERISTIK SISTEM
EVALUASI yang EFEKTIF
Evaluasi strategi harus memenuhi
beberapa persyaratan utama agar efektif. Pertama, aktivitas evaluasi strategi
harus ekonomis; terlalu banyak informasi bisa jadi sama buruknya dengan
terlampau sedikit informasi; dan terlalu banyak pengendalian akan merugikan
alih-alih menguntungkan. Kedua, Aktivitas-aktivitas evaluasi strategi harus
bermakna; aktivitas tersebut harus secara khusus berkaitan dengan tujuan
perusahaan. Ketiga, Aktivitas-aktivitas evaluasi strategi menyediakan informasi
yang bermanfaat mengenai tugas yang perlu diawasi dan bisa dipengaruhi manajer.
Keempat, Aktivitas evaluasi strategi harus menyediakan informasi yang tepat
waktu; kadan dan bidang tertentu, manajer memerlukan informasi harian.
Evaluasi strategi harus dirancang
untuk menyediakan gambaran yang benar mengenai apa yang sedang terjadi. Proses
evaluasi strategi tidak boleh mendominasi keputusan; proses evaluasi seharusnya
membangun pemahaman bersama, kepercayaan, dan masuk akal. Evaluasi strategi
harus sederhana, tidak perlu pelik, dan tidak perlu membatasi.
Kunci sistem evaluasi strategi yang
efektif kiranya terletak pada kemampuan untuk meyakinkan para peserta bahwa
kegagalan untuk mencapai tujuan tertentu dalam kurun waktu yang telah
ditetapkan tidak serta-merta merefleksikan kinerja mereka.
Perencanaan
Kontinjensi
Pemikiran dasar manajemen strategis
yang baik adalah bahwa perusahaan merencanakan cara untuk menangani
peristiwa-peristiwa yang diinginkan dan tidak diinginkan sebelum
peristiwa-peristiwa tersebut terjadi.
Rencana-rencana kontinjensi (contingency
plans) bisa didefinisikan sebagai rencana- rencana alternative yang dapat
dijalankan jika peristiwa-peristiwa penting tertentu tidak terjadi seperti yang
diharapkan. Rencana kontijensi dapat mempromosikan kemampuan penyusunan
strategi untuk merespon secara cepat terhadap perubahan- perubahan penting
dalam landasan internal dan eksternal dari strategi organisasi saat ini.
Tiga
keuntungan besar : (1) Rencana kontijensi memungkinkan respons yang cepat
terhadap perubahan, (2) Rencana kontijensi mencegah munculnya kepanikan pada
situasi kritis, dan (3) Rencana kontijensi membuat manajer lebih bisa beradaptasi
dengan mendorong mereka untuk mengapresiasi bagaimana variable masa depan
berubah. Mereka menyatakan bahwa rencana kontijensi yang efektif melibatkan
proses dengan tujuh langkah:
1) Mengidentifikasi
kejadian-kejadian yang menguntungkan maupun tidak diinginkan yang bisa
menghambat pelaksanaan strategi.
2) Menemukan
titik-titik picu. Perhitungkan kapan kejadian-kejadian kontijensi kemungkinan
besar terjadi.
3) Menilai
dampak dari setiap kejadian kontijensi. Perkirakan manfaat atau bahaya
potensial dari setiap kejadian kontijensi.
4) Mengembangkan
rencana kontijensi. Pastikan bahwa rencana kontijensi sesuai dengan strategi
saat ini dan masuk akal secara ekonomis.
5) Menilai
dampak negative dari setiap rencana kontijensi. Itu artinya, memperkirakan seberapa
jauh setiap rencana kontijensi akan membiarkan begitu saja kejadian kontijensi
yang terkait. Melakukan hal ini sama dengan menguantifikasi nilai potensial
dari setiap rencana kontijensi.
6) Melakukan
sinyal-sinyal awal dari kejadian kontijensi penting. Lakukan pengawasan sinyal
peringatan sejak dini.
7) Untuk
kejadian kontijensi dengan sinyal awal aygn bisa dipercaya, kembangkan rencana
tindakan di awal untuk menarik keuntungan dari yang menjadi pertama.
Audit
Alat yang sering kali digunakan
dalam evaluasi strategi adalah audit. Audit (auditing) didefinisikan sebagai “proses sistematis untuk secara
objektif memperoleh dan mengevaluasi bukti yang terkait dengan penilaian
mengenai tindakan dan kejadian ekonomi untuk memastikan derajat kesesuaian
antara penilaian tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, dan
mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengguna yang tertarik.
Tantangan
dalam manajemen strategis pada abad ke-21
Tiga tantangan atau keputusan khusus
yang dihadapi semua penyusun strategi dewasa ini adalah (1) memutuskan apakah
proses tersebut harus dianggap lebih sebagai seni atau ilmu pengetahuan, (2)
memutuskan apakah strategi perlu dibukakan bagi atau ditutup dari pemangku
kepentingan, dan (3) memutuskan pakah prosesnya didalam perusahaan harus lebih
dari atas-ke-bawah atau dari bawah-ke-atas.
Isu
Seni atau Ilmu Pengetahuan
Agar
manajemen strategis dilihat lebih sebgai ilmu pengetahuan daripada seni.
Perspektif ini menyatakan bahwa perusahaan perlu secara sistematis menilai
lingkungan eksternal dan internal mereka, melakukan riset, secara cermat
mengevaluasi pro dan kontra dari berbagai alternative, melakukan analisis, dan
kemudian memutuskan langkah tindakan tertentu untuk diambi.
Isu
yang Tampak atau Tersembunyi
Beberapa
alasan untuk terbuka penuh dalam proses strategi dan keputusan yang
dihasilkannya adalah :
1. Manajer,
karyawan, dan pemangku kepentingan (stakeholder)
yang lain dapat memberikan kontribusi bagi proses tersebut. Mereka sering
memiliki gagasan yang sangat bagus. Kerahasiaan akan menyia-nyiakan
gagasan-gagasan semacam itu.
2. Investor,
kreditor, dan para pemangku kepentingan lain memiliki dasar yang lebih besar
untuk mendukung sebuah perusahaan bila mereka tahu apa yang dilakukan dan
kemana perusahaan menuju.
3. Visibilitas
mendorong demokrasi, sementara kerahasiaan menghasilkan otokrasi. Kebanyakan
perusahaan memilih demokrasi daripada otokrasi sebagai gaya manajemen.
4. Partisipasi
dan keterbukaan mendorong kesepahaman, komitmen, dan komunikasi di dalam
perusahaan.
Alasan-alasan
yang membuat beberapa perusahaan lebih memilih untuk menjalankan perencanaan
strategis secara diam-diam dan merahasiakan strategi dari semua kecuali
kalangan eksekutif puncak adalah:
1. Penyebaran
strategi perusahaan secara bebas bisa dengan mudah berubah menjadi intelijensi
kompetitif bagi perusahaan pesaing yang kemudian dapat mengeksploitasinya.
2. Kerahasiaan
membatasi kritik, praduga, dan melihat kebelakang hal-hal yang sudah terjadi (hindsight).
3. Partisipan
dalam proses strategi yang terbuka menjadi lebih menarik bagi perusahaan
pesaing yang mungkin lalu mencoba memikat dan merebut mereka.
4. Kerahasiaan
membatasi akses perusahaan pesaing untuk meniru atau menduplikasi strategi
perusahaan
Pendekatan
atas-ke-bawah atau bawah-ke-atas
Para penganjur pendekatan
atas-ke-bawah berpendapat bahwa eksekutif puncak adalah satu-satunya kelompok
didalam perusahaan yang mempunyai pengalaman kolektif, kejelian, dan tanggung
jawab matang untuk membuat keputusan-keputusan strategi penting. Sebaliknya,
para penganut pendekatan bawah-ke-atas menyatakan bahwa manejer tingkat
menengah dan bawah serta karyawan yang akan menerapkan strategi perlu secara
aktif terlibat dalam proses perumusan strategi untuk memastikan dukungan da
komitmen mereka.
KESIMPULAN
Bab ini menyajikan sebuah kerangka
kerja evaluasi yang dapat membantu pencapaian tujuan tahunan dan tujuan jangka
panjang. Evaluasi strategi yang efektif memungkinkan sebuah organisasi untuk
memanfaatkan kekuatan internal bagi perkembangannya, mengeksploitasi peluang
eksternal bagi pertumbuhannya, menyadari dan mempertahankan diri dari ancaman,
serta menangani berbagai kelemahan internal sebelum merekan menjadi sesuatu
yang melumpuhkan.
Para penyusun strategi di
organisasi-organisasi yang berhasil meluangkan waktu untuk merumuskan,
menerapkan, dan kemudian mengevaluasi strategi secara seksama dan sistematis.
Penyusun strategi yang baik membawa organisasi mereka dengan tujuan dan arah
yang jelas, terus-menerus mengevaluasi dan memperbaiki posisi strategis
eksternal dan internal perusahaan. Evaluasi strategi memungkinkan sebuah
organisasi untuk membentuk masa depannya sendiri alih-alih membiarkan dirinya
terus-menerus dibentuk oleh kekuatan luar yang tidak memiliki kepentingan bagi
kebaikan bisnis.
Kunci sesungguhnya pada manajemen
strategia yang efektif adalah penerimaan pemikiran bahwa proses perencanaan
lebih penting daripada rencana yang tertulis, bahwa manajer terus-menerus
membuat rencana dan tidak berhenti merencanakan ketika rencana tertulis
selesai. Rencana tertulis hanyalah potongan potret dari momen ketika
kesepakatan tercapai.jika manajer tidak terus-menerus membuat rencana
(merencanakan, menilai, dan merevisinya) rencana tertulis bisa menjadi using
begitu selesai dibuat. Keusangan ini makin bisa dipastikan seiring cepatnya
laju perubahan membuat lingkungan bisnis makin tak pasti.
Langganan:
Postingan (Atom)




